BANDAR LAMPUNG (Lampost):
Sertifikasi guru di Lampung tidak pernah memenuhi kuota. Pada 2006 misalnya, Provinsi ini mendapat jatah 483 guru, tapi yang lulus hanya 424 guru. Lalu pada 2007, dari kuota 7.361, yang lulus hanya 6.456 guru.
Ketua Penyelenggara Uji Sertifikasi Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Universitas Lampung (Unila), Bujang Rahman, menjelaskan salah satu penyebab belum terpenuhinya kuota sertifikasi karena minimnya sosialisasi dari dinas kepada guru terutama yang ada di daerah. "Misal saja, pada 2006 dari jumlah kuota 483. Yang lulus sertifikasi hanya 424 guru, antara lain 261 lulus portofolio dan 163 lulus lewat PLPG (Pendidikan dan Latihan Profesi Guru, red). Sedangkan 59 tidak ada hasilnya," kata Pembantu Dekan I Fakultas Keguruan FKIP Unila itu, Rabu (13-2).
Begitu juga untuk 2007, dari kuota 7.361 yang mengikuti sertifikasi, hanya 6.653 guru yang lulus. "Dari jumlah tersebut yang lulus portofolionya 2.319 guru dan dari PLPG 4.137 guru. Namun, untuk angkatan kelima hingga kini belum ada pengumuman jumlah yang lulus dan yang tidak," tambah Bujang.
Hal senada disampaikan Ketua Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) Provinsi Lampung Sudjarwo menjelaskan masih sedikitnya guru di Lampung yang lulus sertifikasi karena persoalan teknis. Di antaranya kurangnya sosialisasi dari dinas kepada sekolah-sekolah, khususnya di daerah. Kemudian persoalan teknis individual, yaitu banyak guru yang tidak paham petunjuk teknis yang ada sehingga banyak juga peserta membuat portofolio bagus, tapi tidak memenuhi syarat yang ditetapkan.
Agar memenuhi kuota, ia mengusulkan pola uji sertifikasi diubah, yakni pendaftaran sertifikasi guru, PLPG tahun ini, dan seterusnya akan dilakukan setiap bulan Juni atau Juli. Sebab, selama ini penyelenggaraan pola uji dilakukan pada akhir tahun yang berbenturan dengan jadwal perkuliahan yang sangat padat.
Dia mengatakan sejak penyelenggaraan sertifikasi pada 2006, pendaftaran sertifikasi selalu bertepatan dengan akhir masa perkuliahan sehingga berbenturan. "Akhirnya kami yang bertugas memeriksa portofolio harus bekerja ekstra. Bahkan, kami sering menggunakan waktu libur untuk bekerja. Sebab, pada akhir tahun itulah biasanya aktivitas kampus sangat meningkat karena ujian akhir semester," kata Sudjarwo, Rabu lalu.
Untuk itulah dia mengusulkan pendaftaran sertifikasi guru tahun ini tidak lagi di akhir tahun.
Mengenai kuota tahun ini, ia mengaku belum diberikan pemerintah pusat. "Berdasar pada informasi Dinas Pendidikan Provinsi Lampung, kuotanya sekitar 8.000-an guru. Akan tetapi, surat resminya belum ada hingga kini," ujarnya.
Ia memprediksi sertifikasi di Lampung akan selesai pada 2018 atau 2020. "Tentunya ini ditambah dengan penerimaan guru baru berstrata sarjana yang dilakukan pemda untuk menggantikan guru-guru yang keluaran SPG yang diprediksi memasuki usia pensiun hingga 2018.".
Jalan Basuki Rahmat 23 Telp. (0721)-488843 Bandar Lampung
This blog consists of:
information, education, health, technology, sports, general articles etc.
information, education, health, technology, sports, general articles etc.
Sabtu, 16 Februari 2008
Sabtu, 09 Februari 2008
Belum Semua Sekolah Terapkan KTSP
Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 mengharuskan semua satuan pendidikan mengembangkan kurikulum sesuai potensi sekolah masing-masing atau yang kini lebih dikenal Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Namun di lapangan, Permendiknas tentang Standar Kompetensi Lulusan tersebut belum sepenuhnya diterapkan.
’’Meski sudah banyak yang menerapkan, konsep-konsep pengembangannya belum sesuai KTSP. Ini hampir terjadi di seluruh daerah. Termasuk di antaranya semua kabupaten/kota di Provinsi Lampung,” kata Ketua Himpunan Evaluasi Pendidikan Indonesia (HEPI) Unit Koordinasi Lampung Drs. Undang Rosidin, M.Pd. usai rapat panitia persiapan Musyawarah Daerah HEPI di Aula Yayasan Pendidikan Masyarakat Lampung, Gunungterang, Tanjungkarang Barat, kemarin (3/2).
Menurut Undang, masalah tersebut muncul dari guru sendiri. Yaitu, mereka banyak yang belum mampu mempersiapkan dan melaksanakan KTSP secara menyeluruh. Masalah lainnya muncul dari pelaksanaan ujian nasional (UN) selama ini.
’’Dimana, sebagain guru menganggap UN menimbulkan penekanan pembelajaran yang cenderung memberikan pelatihan-pelatihan daripada pemberian konsep-konsep. Hal ini jelas kurang selaras dengan prinsip-prinsip pembelajaran dalam KTSP. Yaitu pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan,” tegasnya.
Berdasarkan hal tersebut, tandasnya, HEPI Unit Koordinasi Lampung akan mengadakan seminar khusus refleksi implementasi KTSP dan UN. Harapannya melalui seminar bekerja sama dengan forum Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP maupun SMA dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) se-Provinsi Lampung tersebut dapat memberikan gambaran kepada sekolah dan semua pihak yang peduli pada pendidikan.
Lebih jauh, Undang memaparkan seminar tersebut akan digelar pada 15 Maret mendatang di Auditorium Universitas Malahayati. ’’Namun, kami akan mengawalinya dengan semiloka UN dan sertifikasi guru dulu pada 16 Februari. Dilanjutkan musyawarah daerah HEPI pada 26 Februari baru seminar KTSP dan UN pada 15 Maretnya,” pungkas Undang. (*) .
’’Meski sudah banyak yang menerapkan, konsep-konsep pengembangannya belum sesuai KTSP. Ini hampir terjadi di seluruh daerah. Termasuk di antaranya semua kabupaten/kota di Provinsi Lampung,” kata Ketua Himpunan Evaluasi Pendidikan Indonesia (HEPI) Unit Koordinasi Lampung Drs. Undang Rosidin, M.Pd. usai rapat panitia persiapan Musyawarah Daerah HEPI di Aula Yayasan Pendidikan Masyarakat Lampung, Gunungterang, Tanjungkarang Barat, kemarin (3/2).
Menurut Undang, masalah tersebut muncul dari guru sendiri. Yaitu, mereka banyak yang belum mampu mempersiapkan dan melaksanakan KTSP secara menyeluruh. Masalah lainnya muncul dari pelaksanaan ujian nasional (UN) selama ini.
’’Dimana, sebagain guru menganggap UN menimbulkan penekanan pembelajaran yang cenderung memberikan pelatihan-pelatihan daripada pemberian konsep-konsep. Hal ini jelas kurang selaras dengan prinsip-prinsip pembelajaran dalam KTSP. Yaitu pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan,” tegasnya.
Berdasarkan hal tersebut, tandasnya, HEPI Unit Koordinasi Lampung akan mengadakan seminar khusus refleksi implementasi KTSP dan UN. Harapannya melalui seminar bekerja sama dengan forum Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP maupun SMA dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) se-Provinsi Lampung tersebut dapat memberikan gambaran kepada sekolah dan semua pihak yang peduli pada pendidikan.
Lebih jauh, Undang memaparkan seminar tersebut akan digelar pada 15 Maret mendatang di Auditorium Universitas Malahayati. ’’Namun, kami akan mengawalinya dengan semiloka UN dan sertifikasi guru dulu pada 16 Februari. Dilanjutkan musyawarah daerah HEPI pada 26 Februari baru seminar KTSP dan UN pada 15 Maretnya,” pungkas Undang. (*) .
Sejarah Karate di Indonesia
Karate (空 手 道) adalah seni bela diri yang berasal dari Jepang. Seni bela diri karate dibawa masuk ke Jepang lewat Okinawa. Seni bela diri ini pertama kali disebut "Tote” yang berarti seperti “Tangan China”. Waktu karate masuk ke Jepang, nasionalisme Jepang pada saat itu sedang tinggi-tingginya, sehingga Sensei Gichin Funakoshi mengubah kanji Okinawa (Tote: Tangan China) dalam kanji Jepang menjadi ‘karate’ (Tangan Kosong) agar lebih mudah diterima oleh masyarakat Jepang. Karate terdiri dari atas dua kanji. Yang pertama adalah ‘Kara’ 空 dan berarti ‘kosong’. Dan yang kedua, ‘te’ 手, berarti ‘tangan'. Yang dua kanji bersama artinya “tangan kosong” 空手.
Asas karate adalah sama. Namun terdapat beberapa jenis gaya karate yang utama yaitu:
1. Shotokan
2. Goju-Ryu
3. Shito-Ryu
4. Wado-Ryu
5. Kyokushin
Di negara Jepang, organisasi yang mewadahi olahraga Karate seluruh Jepang adalah Japan Karatedo Federation (JKF). Adapun organisasi yang mewadahi Karate seluruh dunia adalah WKF (World Karate Federation), (dulu dikenal dengan nama WUKO - World Union of Karatedo Organizations). Ada pula ITKF (International Traditional Karate Federation) yang mewadahi karate tradisional. Adapun fungsi dari JKF dan WKF adalah terutama untuk meneguhkan Sport Karate yang bersifat Non-Contact, berbeda dengan aliran Kyokushin atau Daidojuku yang Full Contact.
Latihan dasar karate terbagi tiga seperti berikut:
1. Kihon, yaitu latihan teknik-teknik dasar karate seperti teknik memukul, menendang dan menangkis.
2. Kata, yaitu latihan jurus atau bunga karate.
3. Kumite, yaitu latihan tanding atau sparring.
Pada zaman sekarang karate juga dapat dibagi menjadi aliran tradisional dan aliran olah raga. Aliran tradisional lebih menekankan aspek bela diri dan teknik tempur sementara aliran olah raga lebih menumpukan teknik-teknik untuk pertandingan olah raga.
Daftar isi
[sembunyikan]
* 1 Teknik Karate
o 1.1 Kihon
o 1.2 Kata
o 1.3 Kumite
* 2 Pertandingan Karate
o 2.1 Kumite
o 2.2 Kata
o 2.3 Luas Lapangan
* 3 Peralatan Di Dalam Pertandingan Karate
* 4 Sejarah Karate di Indonesia
* 5 Falsafah Karate
* 6 Pranala luar
[sunting] Teknik Karate
Teknik Karate terbagi menjadi tiga bagian utama : Kihon (teknik dasar), Kata(jurus) dan Kumite (pertarungan). Murid tingkat lanjut juga diajarkan untuk menggunakan senjata seperti tongkat (bo) dan ruyung (nunchaku).
[sunting] Kihon
Kihon (基本:きほん, Kihon?) secara harfiah berarti dasar atau fondasi. Praktisi Karate harus menguasai Kihon dengan baik sebelum mempelajari Kata dan Kumite.
Pelatihan Kihon dimulai dari mempelajari pukulan dan tendangan (sabuk putih) dan bantingan (sabuk coklat). Pada tahap DAN atau Sabuk Hitam, siswa dianggap sudah menguasai seluruh kihon dengan baik.
[sunting] Kata
Kata (型:かた) secara harfiah berarti bentuk atau pola. Kata dalam karate tidak hanya merupakan latihan fisik atau aerobik biasa. Tapi juga mengandung pelajaran tentang prinsip bertarung. Setiap Kata memiliki ritme gerakan dan pernapasan yang berbeda.
Dalam Kata ada yang dinamakan Bunkai. Bunkai adalah aplikasi yang dapat digunakan dari gerakan-gerakan dasar Kata.
Setiap aliran memiliki perbedaan gerak dan nama yang berbeda untuk tiap Kata. Sebagai contoh : Kata Tekki di aliran Shotokan dikenal dengan nama Naihanchi di aliran Shito Ryu. Sebagai akibatnya Bunkai (aplikasi kata) tiap aliran juga berbeda.
[sunting] Kumite
Kumite (組手:くみて) secara harfiah berarti "pertemuan tangan". Kumite dilakukan oleh murid-murid tingkat lanjut (sabuk biru atau lebih). Tetapi sekarang, ada dojo yang mengajarkan kumite pada murid tingkat pemula (sabuk kuning). Sebelum melakukan kumite bebas (jiyu Kumite) praktisi mempelajari kumite yang diatur (go hon kumite) atau (yakusoku kumite). Untuk kumite aliran olahraga, lebih dikenal dengan Kumite Shiai atau Kumite Pertandingan.
Untuk aliran Shotokan di Jepang, kumite hanya dilakukan oleh siswa yang sudah mencapai tingkat dan (sabuk hitam). Praktisi diharuskan untuk dapat menjaga pukulannya supaya tidak mencederai kawan bertanding.
Untuk aliran full body contact seperti Kyokushin, praktisi Karate sudah dibiasakan untuk melakukan kumite sejak sabuk biru strip. Praktisi Kyokushin diperkenankan untuk melancarkan tendangan dan pukulan sekuat tenaganya ke arah lawan bertanding.
Untuk aliran kombinasi seperti Wado-ryu, yang tekniknya terdiri atas kombinasi Karate dan Jujutsu, maka Kumite dibagi menjadi dua macam, yaitu Kumite untuk persiapan Shiai, dimana yang dilatih hanya teknik-teknik yang diperbolehkan dalam pertandingan, dan Goshinjutsu Kumite atau Kumite untuk beladiri, dimana semua teknik dipergunakan, termasuk jurus-jurus Jujutsu seperti bantingan, kuncian dan menyerang titik vital.
[sunting] Pertandingan Karate
Cara bermain
Pertandingan karate dibagi atas dua jenis yaitu :
1. Kumite (perkelahian) putera dan puteri
2. Kata (jurus) putera dan puteri
[sunting] Kumite
Kumite dibagi atas kumite perorangan dengan pembagian kelas berdasarkan berat badan dan kumite beregu tanpa pembagian kelas berat badan (khusus untuk putera). Sistem pertandingan yang dipakai adalah reperchance (WUKO) atau babak kesempatan kembali kepada atlet yang pernah dikalahkan oleh sang juara. Pertandingan dilakukan dalam satu babak (2-3 menit bersih) dan 1 babak perpanjangan kalau terjadi seri, kecuali dalam pertandingan beregu tidak ada waktu perpanjangan. Dan jika masih pada babak perpanjangan masih mengalami nilai seri, maka akan diadakan pemilihan karateka yang paling ofensif dan agresif sebagai pemenang.
[sunting] Kata
Pada pertandingan kata yang diperagakan adalah keindahan gerak dari jurus, baik untuk putera maupun puteri. Sesuai dengan kata pilihan atau kata wajib dalam peraturan pertandingan.
Para peserta harus memperagakan kata wajib. Bila lulus, peserta akan mengikuti babak selanjutnya dimana dia dapat memperagakan kata pilhan.
Pertandingan dibagi menjadi dua jenis: Kata perorangan dan Kata beregu. Kata beregu dilakukan oleh 3 orang. Setelah melakukan peragaan kata, para peserta diharuskan memperagakan aplikasi dari Kata (bunkai). Kata beregu dinilai lebih prestisius karena lebih indah dan lebih susah untuk dilatih.
Menurut standar JKF dan WKF, yang diakui sebagai Kata Wajib adalah hanya 8 Kata yang berasal dari perguruan 4 Besar JKF, yaitu Shotokan, Wado-ryu, Goju-ryu and Shito-ryu, dengan perincian sebagai berikut:
Shotokan : Kankudai dan Jion.
Wado-ryu : Seishan dan Chinto.
Goju-ryu : Saifa dan Seipai.
Shito-ryu: Seienchin dan Bassaidai.
Karateka dari aliran selain 4 besar tidak dilarang untuk ikut pertandingan Kata JKF dan WKF, hanya saja mereka harus memainkan Kata sebagaimana dimainkan oleh perguruan 4 besar diatas.
[sunting] Luas Lapangan
* Lantai seluas 8 x 8 meter, beralas papan atau matras di atas panggung dengan ketinggian 1 meter dan ditambah daerah pengaman berukuran 2 meter pada tiap sisi.
* Arena pertandingan harus rata dan terhindar dari kemungkinan menimbulkan bahaya.
Pada Kumite Shiai yang biasa digunakan oleh FORKI yang mengacu peraturan dari WKF, idealnya adalah menggunakan matras dengan lebar 10 x 10 meter. Matras tersebut dibagi kedalam tiga warna yaitu putih, merah dan biru. Matras yang paling luar adalah batas jogai dimana karate-ka yang sedang bertanding tidak boleh menyentuh batas tersebut atau akan dikenakan pelanggaran. Batas yang kedua lebih dalam dari batas jogai adalah batas peringatan, sehingga karate-ka yang sedang bertanding dapat memprediksi ruang arena dia bertanding. Sisa ruang lingkup matras yang paling dalam dan paling banyak dengan warna putih adalah arena bertanding efektif.
[sunting] Peralatan Di Dalam Pertandingan Karate
Peralatan yang diperlukan dalam pertandingan Karate
1. Pakaian Karate (karategi) untuk kontestan
2. Hand Protector (pelindung tangan)
3. Shin Guard (pelindung kaki)
4. Obi (ikat pinggang) untuk kedua kontestan berwarna merah/aka dan biru/ao
5. Alat-alat lain yang diperbolehkan tapi bukan menjadi keharusan adalah:
* Gum Shield (di beberapa pertandingan menjadi keharusan)
* Body Protector untuk kontestan putri
* Groin Protector untuk kontestan putera
5. Pluit untuk arbitrator/alat tulis
6. Seragam wasit/juri
* Baju putih
* Celana abu-abu
* Dasi merah
* Sepatu karet hitam tanpa sol
7. Scoring board
8. Administrasi pertandingan
9. Lampu merah, hijau, kuning sebagai tanda waktu pertandingan dengan pencatat waktu (stop watch).
Tambahan: Khusus untuk Kyokushin, pelindung yang dipakai hanyalah groin protector untuk kontestan putra. Sedangkan pelindung yang lain tidak diperkenankan.
[sunting] Sejarah Karate di Indonesia
Di tahun 1964, kembalilah ke tanah air salah seorang mahasiswa Indonesia yang telah menyelesaikan kuliahnya bernama Drs. Baud A.D. Adikusumo(Alm). Beliau adalah seorang karateka yang mendapatkan sabuk hitam dari M. Nakayama, JKA Shotokan. Ia mulai mengajarkan karate. Melihat banyaknya peminat yang ingin belajar karate, dia mendirikan PORKI (Persatuan Olahraga Karate-Do Indonesia) yang merupakan cikal bakal FORKI (Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia). Sehingga beliau tercatat sebagai pelopor seni beladiri Karate di Indonesia.Dan beliau juga pendiri Indonesia Karate-DO (INKADO)
Setelah beliau, tercatat nama putra-putra bangsa Indonesia yang ikut berjasa mengembangkan berbagai aliran Karate di Indonesia, antara lain Bp. Sabeth Mukhsin dari aliran Shotokan, pendiri Institut Karate-Do Indonesia (INKAI) dan Federasi Karate Tradisional Indonesia (FKTI), dan juga dari aliran Shotokan adalah Anton Lesiangi (pendiri Lembaga Karate-Do Indonesia/LEMKARI, yang pada dekade 2005 karena urusan internal banyak anggota Lemkari yang keluar dan dipecat yang kemudian mendirikan INKANAS (Institut Karate-do Nasional) yang merupakan peleburan dari perguruan MKC (Medan Karate club). Kabarnya, perguruan ini sekarang menjadi besar dan maju, tidak kalah dengan LEMKARI.
Aliran Shotokan adalah yang paling populer di Indonesia. Selain Shotokan, Indonesia juga memiliki perguruan-perguruan dari aliran lain yaitu Wado dibawah asuhan Wado-ryu Karate-Do Indonesia (WADOKAI) yang didirikan oleh Bp. C.A. Taman dan Kushin-ryu Matsuzaki Karate-Do Indonesia (KKI) yang didirikan oleh Matsuzaki Horyu. Selain itu juga dikenal Bp. Setyo Haryono dan beberapa tokoh lainnya membawa aliran Goju-ryu, Bp. Nardi T. Nirwanto dengan beberapa tokoh lainnya membawa aliran Kyokushin. Aliran Shito-ryu juga tumbuh di Indonesia dibawah perguruan GABDIKA Shitoryu dan SHINDOKA.
Pada tahun 1972, 25 perguruan Karate di Indonesia setuju untuk bergabung dengan FORKI (Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia), yang sekarang menjadi perwakilan WKF (World Karate Federation) untuk Indonesia. Dibawah bimbingan FORKI, para Karateka Indonesia dapat berlaga di forum Internasional terutama yang disponsori oleh WKF.
[sunting] Falsafah Karate
1. Rakka (Bunga yang berguguran) Ia adalah konsep bela diri atau pertahanan di dalam karate. Ia bermaksud setiap teknik pertahanan itu perlu dilakukan dengan bertenaga dan mantap agar dengan menggunakan satu teknik pun sudah cukup untuk membela diri sehingga diumpamakan jika teknik itu dilakukan ke atas pokok, maka semua bunga dari pokok tersebut akan jatuh berguguran. Contohnya jika ada orang menyerang dengan menumbuk muka, si pengamal karate boleh menggunakan teknik menangkis atas. Sekiranya tangkisan atas itu cukup kuat dan mantap, ia boleh mematahkan tangan yang menumbuk itu. Dengan itu tidak perlu lagi membuat serangan susulan pun sudah cukup untuk membela diri.
2. Mizu No Kokoro (Minda itu seperti air) Konsep ini bermaksud bahwa untuk tujuan bela diri, minda (pikiran) perlulah dijaga dan dilatih agar selalu tenang. Apabila minda tenang, maka mudah untuk pengamal bela diri untuk mengelak atau menangkis serangan. Minda itu seumpama air di danau. Bila bulan mengambang, kita akan dapat melihat bayangan bulan dengan terang di danau yang tenang. Sekiranya dilontar batu kecil ke danautersebut, bayangan bulan di danauitu akan kabur.
Adapun ciri khas dan latar belakang dari berbagai aliran Karate yang termasuk dalam "4 besar JKF" adalah sebagai berikut:
1. Shotokan
Shoto adalah nama pena Gichin Funakoshi, Kan dapat diartikan sebagai gedung/bangunan - sehingga shotokan dapat diterjemahkan sebagai Perguruan Funakoshi. Gichin Funakoshi merupakan pelopor yang membawa ilmu karate dari Okinawa ke Jepang. Aliran Shotokan merupakan akumulasi dan standardisasi dari berbagai perguruan karate di Okinawa yang pernah dipelajari oleh Funakoshi. Berpegang pada konsep Ichigeki Hissatsu, yaitu satu gerakan dapat membunuh lawan. Shotokan menggunakan kuda-kuda yang rendah serta pukulan dan tangkisan yang keras. Gerakan Shotokan cenderung linear/frontal, sehingga praktisi Shotokan berani langsung beradu pukulan dan tangkisan dengan lawan.
2. Goju-ryu
Goju memiliki arti keras-lembut. Aliran ini memadukan teknik keras dan teknik lembut, dan merupakan salah satu perguruan karate tradisional di Okinawa yang memiliki sejarah yang panjang. Dengan meningkatnya popularitas Karate di Jepang (setelah masuknya Shotokan ke Jepang), aliran Goju ini dibawa ke Jepang oleh Chojun Miyagi. Miyagi memperbarui banyak teknik-teknik aliran ini menjadi aliran Goju-ryu yang sekarang, sehingga banyak orang yang menganggap Chojun Miyagi sebagai pendiri Goju-ryu. Berpegang pada konsep bahwa "dalam pertarungan yang sesungguhnya, kita harus bisa menerima dan membalas pukulan". Sehinga Goju-ryu menekankan pada latihan SANCHIN atau pernapasan dasar, agar para praktisinya dapat memberikan pukulan yang dahsyat dan menerima pukulan dari lawan tanpa terluka. Goju-ryu menggunakan tangkisan yang bersifat circular serta senang melakukan pertarungan jarak rapat.
3. Shito-ryu
Aliran Shito-ryu terkenal dengan keahlian bermain KATA, terbukti dari banyaknya KATA yang diajarkan di aliran Shito-ryu, yaitu ada 30 sampai 40 KATA, lebih banyak dari aliran lain. Sebagai perbandingan, Shotokan memiliki 25, Wado memiliki 17, Goju memiliki 12 KATA. Dalam pertarungan, ahli Karate Shito-ryu dapat menyesuaikan diri dengan kondisi, mereka bisa bertarung seperti Shotokan secara frontal, maupun dengan jarak rapat seperti Goju.
4. Wado-ryu
Wado-ryu adalah aliran Karate yang unik karena berakar pada seni beladiri Shindo Yoshin-ryu Jujutsu, sebuah aliran beladiri Jepang yang memiliki teknik kuncian persendian dan lemparan. Sehingga Wado-ryu selain mengajarkan teknik Karate juga mengajarkan teknik kuncian persendian dan lemparan/bantingan Jujutsu. DIdalam pertarungan, ahli Wado-ryu menggunakan prinsip Jujutsu yaitu tidak mau mengadu tenaga secara frontal, lebih banyak menggunakan tangkisan yang bersifat mengalir (bukan tangkisan keras), dan terkadang menggunakan teknik Jujutsu seperti bantingan dan sapuan kaki untuk menjatuhkan lawan. Akan tetapi, dalam pertandingan FORKI dan JKF, para praktisi Wado-ryu juga mampu menyesuaikan diri dengan peraturan yang ada dan bertanding tanpa menggunakan jurus-jurus Jujutsu tersebut.
5. Kyokushin
Kyokushin tidak termasuk dalam 4 besar Japan Karatedo Federation. Akan tetapi, aliran ini sangat terkenal baik didalam maupun diluar Jepang, serta turut berjasa mempopulerkan Karate di seluruh dunia, terutama pada tahun 1970an. Aliran ini didirikan oleh Sosai Masutatsu Oyama. Nama Kyokushin mempunyai arti kebenaran tertinggi. Aliran ini menganut sistem Budo Karate, dimana praktisi-praktisinya dituntut untuk berani melakukan full-contact kumite, yakni tanpa pelindung, untuk mendalami arti yang sebenarnya dari seni bela diri karate serta melatih jiwa/semangat keprajuritan (budo). Aliran ini juga menerapkan hyakunin kumite (kumite 100 orang) sebagai ujian tertinggi, dimana karateka diuji melakukan 100 kumite berturut-turut tanpa kalah. Sosai Oyama sendiri telah melakukan kumite 300 orang. Adalah umum bagi praktisi aliran ini untuk melakukan 5-10 kumite berturut-turut..
Asas karate adalah sama. Namun terdapat beberapa jenis gaya karate yang utama yaitu:
1. Shotokan
2. Goju-Ryu
3. Shito-Ryu
4. Wado-Ryu
5. Kyokushin
Di negara Jepang, organisasi yang mewadahi olahraga Karate seluruh Jepang adalah Japan Karatedo Federation (JKF). Adapun organisasi yang mewadahi Karate seluruh dunia adalah WKF (World Karate Federation), (dulu dikenal dengan nama WUKO - World Union of Karatedo Organizations). Ada pula ITKF (International Traditional Karate Federation) yang mewadahi karate tradisional. Adapun fungsi dari JKF dan WKF adalah terutama untuk meneguhkan Sport Karate yang bersifat Non-Contact, berbeda dengan aliran Kyokushin atau Daidojuku yang Full Contact.
Latihan dasar karate terbagi tiga seperti berikut:
1. Kihon, yaitu latihan teknik-teknik dasar karate seperti teknik memukul, menendang dan menangkis.
2. Kata, yaitu latihan jurus atau bunga karate.
3. Kumite, yaitu latihan tanding atau sparring.
Pada zaman sekarang karate juga dapat dibagi menjadi aliran tradisional dan aliran olah raga. Aliran tradisional lebih menekankan aspek bela diri dan teknik tempur sementara aliran olah raga lebih menumpukan teknik-teknik untuk pertandingan olah raga.
Daftar isi
[sembunyikan]
* 1 Teknik Karate
o 1.1 Kihon
o 1.2 Kata
o 1.3 Kumite
* 2 Pertandingan Karate
o 2.1 Kumite
o 2.2 Kata
o 2.3 Luas Lapangan
* 3 Peralatan Di Dalam Pertandingan Karate
* 4 Sejarah Karate di Indonesia
* 5 Falsafah Karate
* 6 Pranala luar
[sunting] Teknik Karate
Teknik Karate terbagi menjadi tiga bagian utama : Kihon (teknik dasar), Kata(jurus) dan Kumite (pertarungan). Murid tingkat lanjut juga diajarkan untuk menggunakan senjata seperti tongkat (bo) dan ruyung (nunchaku).
[sunting] Kihon
Kihon (基本:きほん, Kihon?) secara harfiah berarti dasar atau fondasi. Praktisi Karate harus menguasai Kihon dengan baik sebelum mempelajari Kata dan Kumite.
Pelatihan Kihon dimulai dari mempelajari pukulan dan tendangan (sabuk putih) dan bantingan (sabuk coklat). Pada tahap DAN atau Sabuk Hitam, siswa dianggap sudah menguasai seluruh kihon dengan baik.
[sunting] Kata
Kata (型:かた) secara harfiah berarti bentuk atau pola. Kata dalam karate tidak hanya merupakan latihan fisik atau aerobik biasa. Tapi juga mengandung pelajaran tentang prinsip bertarung. Setiap Kata memiliki ritme gerakan dan pernapasan yang berbeda.
Dalam Kata ada yang dinamakan Bunkai. Bunkai adalah aplikasi yang dapat digunakan dari gerakan-gerakan dasar Kata.
Setiap aliran memiliki perbedaan gerak dan nama yang berbeda untuk tiap Kata. Sebagai contoh : Kata Tekki di aliran Shotokan dikenal dengan nama Naihanchi di aliran Shito Ryu. Sebagai akibatnya Bunkai (aplikasi kata) tiap aliran juga berbeda.
[sunting] Kumite
Kumite (組手:くみて) secara harfiah berarti "pertemuan tangan". Kumite dilakukan oleh murid-murid tingkat lanjut (sabuk biru atau lebih). Tetapi sekarang, ada dojo yang mengajarkan kumite pada murid tingkat pemula (sabuk kuning). Sebelum melakukan kumite bebas (jiyu Kumite) praktisi mempelajari kumite yang diatur (go hon kumite) atau (yakusoku kumite). Untuk kumite aliran olahraga, lebih dikenal dengan Kumite Shiai atau Kumite Pertandingan.
Untuk aliran Shotokan di Jepang, kumite hanya dilakukan oleh siswa yang sudah mencapai tingkat dan (sabuk hitam). Praktisi diharuskan untuk dapat menjaga pukulannya supaya tidak mencederai kawan bertanding.
Untuk aliran full body contact seperti Kyokushin, praktisi Karate sudah dibiasakan untuk melakukan kumite sejak sabuk biru strip. Praktisi Kyokushin diperkenankan untuk melancarkan tendangan dan pukulan sekuat tenaganya ke arah lawan bertanding.
Untuk aliran kombinasi seperti Wado-ryu, yang tekniknya terdiri atas kombinasi Karate dan Jujutsu, maka Kumite dibagi menjadi dua macam, yaitu Kumite untuk persiapan Shiai, dimana yang dilatih hanya teknik-teknik yang diperbolehkan dalam pertandingan, dan Goshinjutsu Kumite atau Kumite untuk beladiri, dimana semua teknik dipergunakan, termasuk jurus-jurus Jujutsu seperti bantingan, kuncian dan menyerang titik vital.
[sunting] Pertandingan Karate
Cara bermain
Pertandingan karate dibagi atas dua jenis yaitu :
1. Kumite (perkelahian) putera dan puteri
2. Kata (jurus) putera dan puteri
[sunting] Kumite
Kumite dibagi atas kumite perorangan dengan pembagian kelas berdasarkan berat badan dan kumite beregu tanpa pembagian kelas berat badan (khusus untuk putera). Sistem pertandingan yang dipakai adalah reperchance (WUKO) atau babak kesempatan kembali kepada atlet yang pernah dikalahkan oleh sang juara. Pertandingan dilakukan dalam satu babak (2-3 menit bersih) dan 1 babak perpanjangan kalau terjadi seri, kecuali dalam pertandingan beregu tidak ada waktu perpanjangan. Dan jika masih pada babak perpanjangan masih mengalami nilai seri, maka akan diadakan pemilihan karateka yang paling ofensif dan agresif sebagai pemenang.
[sunting] Kata
Pada pertandingan kata yang diperagakan adalah keindahan gerak dari jurus, baik untuk putera maupun puteri. Sesuai dengan kata pilihan atau kata wajib dalam peraturan pertandingan.
Para peserta harus memperagakan kata wajib. Bila lulus, peserta akan mengikuti babak selanjutnya dimana dia dapat memperagakan kata pilhan.
Pertandingan dibagi menjadi dua jenis: Kata perorangan dan Kata beregu. Kata beregu dilakukan oleh 3 orang. Setelah melakukan peragaan kata, para peserta diharuskan memperagakan aplikasi dari Kata (bunkai). Kata beregu dinilai lebih prestisius karena lebih indah dan lebih susah untuk dilatih.
Menurut standar JKF dan WKF, yang diakui sebagai Kata Wajib adalah hanya 8 Kata yang berasal dari perguruan 4 Besar JKF, yaitu Shotokan, Wado-ryu, Goju-ryu and Shito-ryu, dengan perincian sebagai berikut:
Shotokan : Kankudai dan Jion.
Wado-ryu : Seishan dan Chinto.
Goju-ryu : Saifa dan Seipai.
Shito-ryu: Seienchin dan Bassaidai.
Karateka dari aliran selain 4 besar tidak dilarang untuk ikut pertandingan Kata JKF dan WKF, hanya saja mereka harus memainkan Kata sebagaimana dimainkan oleh perguruan 4 besar diatas.
[sunting] Luas Lapangan
* Lantai seluas 8 x 8 meter, beralas papan atau matras di atas panggung dengan ketinggian 1 meter dan ditambah daerah pengaman berukuran 2 meter pada tiap sisi.
* Arena pertandingan harus rata dan terhindar dari kemungkinan menimbulkan bahaya.
Pada Kumite Shiai yang biasa digunakan oleh FORKI yang mengacu peraturan dari WKF, idealnya adalah menggunakan matras dengan lebar 10 x 10 meter. Matras tersebut dibagi kedalam tiga warna yaitu putih, merah dan biru. Matras yang paling luar adalah batas jogai dimana karate-ka yang sedang bertanding tidak boleh menyentuh batas tersebut atau akan dikenakan pelanggaran. Batas yang kedua lebih dalam dari batas jogai adalah batas peringatan, sehingga karate-ka yang sedang bertanding dapat memprediksi ruang arena dia bertanding. Sisa ruang lingkup matras yang paling dalam dan paling banyak dengan warna putih adalah arena bertanding efektif.
[sunting] Peralatan Di Dalam Pertandingan Karate
Peralatan yang diperlukan dalam pertandingan Karate
1. Pakaian Karate (karategi) untuk kontestan
2. Hand Protector (pelindung tangan)
3. Shin Guard (pelindung kaki)
4. Obi (ikat pinggang) untuk kedua kontestan berwarna merah/aka dan biru/ao
5. Alat-alat lain yang diperbolehkan tapi bukan menjadi keharusan adalah:
* Gum Shield (di beberapa pertandingan menjadi keharusan)
* Body Protector untuk kontestan putri
* Groin Protector untuk kontestan putera
5. Pluit untuk arbitrator/alat tulis
6. Seragam wasit/juri
* Baju putih
* Celana abu-abu
* Dasi merah
* Sepatu karet hitam tanpa sol
7. Scoring board
8. Administrasi pertandingan
9. Lampu merah, hijau, kuning sebagai tanda waktu pertandingan dengan pencatat waktu (stop watch).
Tambahan: Khusus untuk Kyokushin, pelindung yang dipakai hanyalah groin protector untuk kontestan putra. Sedangkan pelindung yang lain tidak diperkenankan.
[sunting] Sejarah Karate di Indonesia
Di tahun 1964, kembalilah ke tanah air salah seorang mahasiswa Indonesia yang telah menyelesaikan kuliahnya bernama Drs. Baud A.D. Adikusumo(Alm). Beliau adalah seorang karateka yang mendapatkan sabuk hitam dari M. Nakayama, JKA Shotokan. Ia mulai mengajarkan karate. Melihat banyaknya peminat yang ingin belajar karate, dia mendirikan PORKI (Persatuan Olahraga Karate-Do Indonesia) yang merupakan cikal bakal FORKI (Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia). Sehingga beliau tercatat sebagai pelopor seni beladiri Karate di Indonesia.Dan beliau juga pendiri Indonesia Karate-DO (INKADO)
Setelah beliau, tercatat nama putra-putra bangsa Indonesia yang ikut berjasa mengembangkan berbagai aliran Karate di Indonesia, antara lain Bp. Sabeth Mukhsin dari aliran Shotokan, pendiri Institut Karate-Do Indonesia (INKAI) dan Federasi Karate Tradisional Indonesia (FKTI), dan juga dari aliran Shotokan adalah Anton Lesiangi (pendiri Lembaga Karate-Do Indonesia/LEMKARI, yang pada dekade 2005 karena urusan internal banyak anggota Lemkari yang keluar dan dipecat yang kemudian mendirikan INKANAS (Institut Karate-do Nasional) yang merupakan peleburan dari perguruan MKC (Medan Karate club). Kabarnya, perguruan ini sekarang menjadi besar dan maju, tidak kalah dengan LEMKARI.
Aliran Shotokan adalah yang paling populer di Indonesia. Selain Shotokan, Indonesia juga memiliki perguruan-perguruan dari aliran lain yaitu Wado dibawah asuhan Wado-ryu Karate-Do Indonesia (WADOKAI) yang didirikan oleh Bp. C.A. Taman dan Kushin-ryu Matsuzaki Karate-Do Indonesia (KKI) yang didirikan oleh Matsuzaki Horyu. Selain itu juga dikenal Bp. Setyo Haryono dan beberapa tokoh lainnya membawa aliran Goju-ryu, Bp. Nardi T. Nirwanto dengan beberapa tokoh lainnya membawa aliran Kyokushin. Aliran Shito-ryu juga tumbuh di Indonesia dibawah perguruan GABDIKA Shitoryu dan SHINDOKA.
Pada tahun 1972, 25 perguruan Karate di Indonesia setuju untuk bergabung dengan FORKI (Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia), yang sekarang menjadi perwakilan WKF (World Karate Federation) untuk Indonesia. Dibawah bimbingan FORKI, para Karateka Indonesia dapat berlaga di forum Internasional terutama yang disponsori oleh WKF.
[sunting] Falsafah Karate
1. Rakka (Bunga yang berguguran) Ia adalah konsep bela diri atau pertahanan di dalam karate. Ia bermaksud setiap teknik pertahanan itu perlu dilakukan dengan bertenaga dan mantap agar dengan menggunakan satu teknik pun sudah cukup untuk membela diri sehingga diumpamakan jika teknik itu dilakukan ke atas pokok, maka semua bunga dari pokok tersebut akan jatuh berguguran. Contohnya jika ada orang menyerang dengan menumbuk muka, si pengamal karate boleh menggunakan teknik menangkis atas. Sekiranya tangkisan atas itu cukup kuat dan mantap, ia boleh mematahkan tangan yang menumbuk itu. Dengan itu tidak perlu lagi membuat serangan susulan pun sudah cukup untuk membela diri.
2. Mizu No Kokoro (Minda itu seperti air) Konsep ini bermaksud bahwa untuk tujuan bela diri, minda (pikiran) perlulah dijaga dan dilatih agar selalu tenang. Apabila minda tenang, maka mudah untuk pengamal bela diri untuk mengelak atau menangkis serangan. Minda itu seumpama air di danau. Bila bulan mengambang, kita akan dapat melihat bayangan bulan dengan terang di danau yang tenang. Sekiranya dilontar batu kecil ke danautersebut, bayangan bulan di danauitu akan kabur.
Adapun ciri khas dan latar belakang dari berbagai aliran Karate yang termasuk dalam "4 besar JKF" adalah sebagai berikut:
1. Shotokan
Shoto adalah nama pena Gichin Funakoshi, Kan dapat diartikan sebagai gedung/bangunan - sehingga shotokan dapat diterjemahkan sebagai Perguruan Funakoshi. Gichin Funakoshi merupakan pelopor yang membawa ilmu karate dari Okinawa ke Jepang. Aliran Shotokan merupakan akumulasi dan standardisasi dari berbagai perguruan karate di Okinawa yang pernah dipelajari oleh Funakoshi. Berpegang pada konsep Ichigeki Hissatsu, yaitu satu gerakan dapat membunuh lawan. Shotokan menggunakan kuda-kuda yang rendah serta pukulan dan tangkisan yang keras. Gerakan Shotokan cenderung linear/frontal, sehingga praktisi Shotokan berani langsung beradu pukulan dan tangkisan dengan lawan.
2. Goju-ryu
Goju memiliki arti keras-lembut. Aliran ini memadukan teknik keras dan teknik lembut, dan merupakan salah satu perguruan karate tradisional di Okinawa yang memiliki sejarah yang panjang. Dengan meningkatnya popularitas Karate di Jepang (setelah masuknya Shotokan ke Jepang), aliran Goju ini dibawa ke Jepang oleh Chojun Miyagi. Miyagi memperbarui banyak teknik-teknik aliran ini menjadi aliran Goju-ryu yang sekarang, sehingga banyak orang yang menganggap Chojun Miyagi sebagai pendiri Goju-ryu. Berpegang pada konsep bahwa "dalam pertarungan yang sesungguhnya, kita harus bisa menerima dan membalas pukulan". Sehinga Goju-ryu menekankan pada latihan SANCHIN atau pernapasan dasar, agar para praktisinya dapat memberikan pukulan yang dahsyat dan menerima pukulan dari lawan tanpa terluka. Goju-ryu menggunakan tangkisan yang bersifat circular serta senang melakukan pertarungan jarak rapat.
3. Shito-ryu
Aliran Shito-ryu terkenal dengan keahlian bermain KATA, terbukti dari banyaknya KATA yang diajarkan di aliran Shito-ryu, yaitu ada 30 sampai 40 KATA, lebih banyak dari aliran lain. Sebagai perbandingan, Shotokan memiliki 25, Wado memiliki 17, Goju memiliki 12 KATA. Dalam pertarungan, ahli Karate Shito-ryu dapat menyesuaikan diri dengan kondisi, mereka bisa bertarung seperti Shotokan secara frontal, maupun dengan jarak rapat seperti Goju.
4. Wado-ryu
Wado-ryu adalah aliran Karate yang unik karena berakar pada seni beladiri Shindo Yoshin-ryu Jujutsu, sebuah aliran beladiri Jepang yang memiliki teknik kuncian persendian dan lemparan. Sehingga Wado-ryu selain mengajarkan teknik Karate juga mengajarkan teknik kuncian persendian dan lemparan/bantingan Jujutsu. DIdalam pertarungan, ahli Wado-ryu menggunakan prinsip Jujutsu yaitu tidak mau mengadu tenaga secara frontal, lebih banyak menggunakan tangkisan yang bersifat mengalir (bukan tangkisan keras), dan terkadang menggunakan teknik Jujutsu seperti bantingan dan sapuan kaki untuk menjatuhkan lawan. Akan tetapi, dalam pertandingan FORKI dan JKF, para praktisi Wado-ryu juga mampu menyesuaikan diri dengan peraturan yang ada dan bertanding tanpa menggunakan jurus-jurus Jujutsu tersebut.
5. Kyokushin
Kyokushin tidak termasuk dalam 4 besar Japan Karatedo Federation. Akan tetapi, aliran ini sangat terkenal baik didalam maupun diluar Jepang, serta turut berjasa mempopulerkan Karate di seluruh dunia, terutama pada tahun 1970an. Aliran ini didirikan oleh Sosai Masutatsu Oyama. Nama Kyokushin mempunyai arti kebenaran tertinggi. Aliran ini menganut sistem Budo Karate, dimana praktisi-praktisinya dituntut untuk berani melakukan full-contact kumite, yakni tanpa pelindung, untuk mendalami arti yang sebenarnya dari seni bela diri karate serta melatih jiwa/semangat keprajuritan (budo). Aliran ini juga menerapkan hyakunin kumite (kumite 100 orang) sebagai ujian tertinggi, dimana karateka diuji melakukan 100 kumite berturut-turut tanpa kalah. Sosai Oyama sendiri telah melakukan kumite 300 orang. Adalah umum bagi praktisi aliran ini untuk melakukan 5-10 kumite berturut-turut..
STKIP-PGRI Bandar Lampung buka Program S2
Friday, 08 February 2008
Laporan/Editor: Abdul Karim
Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Persatuan Guru Republik Indonesia (STKIP-PGRI) Bandarlampung tidak lama lagi akan membuka program magister (S2). Khususnya untuk jurusan bahasa dan ilmu pengetahuan sosial. Demikian disampaikan Ketua STKIP PGRI Drs. Hi. Dailami Zain saat membuka pelatihan dan pendidikan (diklat) di kampus setempat, Jl. Khairil Anwar No. 79 Bandarlampung, kemarin (7/2).
Kapan kepastiannya, menurut Dailami secepatnya. ’’Kini, kami sedang mengurusnya ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Persiapan lainnya, kami juga sedang menguliahkan beberapa dosen pada program S2 dan S3 sebagai tenaga pengajarnya nanti,” tegasnya.
Dailami juga mengungkapkan keyakinan rencananya tersebut terwujud. Itu karena beberapa persyaratannya sudah terpenuhi. Di antaranya, program-program studi yang ada minimal sudah terakreditasi B dan perguruan tingginya tidak menyelenggarakan kuliah jarak jauh. ’’Tak terkecuali dengan sarana dan prasarana yang layak untuk program magister tersebut. Termasuk modal yang dipersyaratkan juga telah cukup,” ujarnya.
Alasan Dailami membuka program tersebut semata-mata merespons permintaan masyarakat. Khususnya yang ingin melanjutkan kuliah ke S2 yang linear dengan S1-nya. Sementara, di Lampung belum ada dan keluar memakan waktu serta biaya cukup banyak.
Sementara, diklat Pembelajaran Efektif di kampus setempat kemarin berlangsung sukses. Pesertanya pun membeludak. Yaitu dari target 200 peserta terpenuhi 340. ’’Itu pun, kami masih banyak yang kami tolak karena kapasitasnya terbatas,” kata ketua pelaksana Ema Agustina, M.Pd.
Pematerinya selain Ema Agustina sendiri juga Drs. Wayan Satria Jaya, M.Si., Drs. Sudarmaji, M.Pd., dan Drs. Joko Sutrisno A.B., M.Pd. Masing-masing menyampaikan topik Penyusunan Portofolio Sertifikasi Guru dalam Jabatan, Asesment, Model-Model Pembelajaran dan Penyusunan Rencana Pembelajaran, dan Penelitian Tindakan Kelas. (*) .
Latihan Ujian Nasional (LUN I)
Ujian:Kelulusan LUN SMP Hanya 25%
BANDAR LAMPUNG (Lampost):
Kelulusan siswa SMP Kota Bandar Lampung pada latihan ujian nasional (LUN) tahap I hanya 25,09%. Sebagian besar siswa gagal mencapai nilai rata-rata minimal 5,25.
Sedangkan tiga mata pelajaran yang masih menjadi momok adalah Matematika, Bahasa Inggris, dan IPA. Kondisi yang cukup memprihatinkan itu membuat pihak sekolah mengatur strategi pembelajaran agar siswa benar-benar siap menghadapi UN pada April nanti.
Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMPN Kota Bandar Lampung Haryanto mengatakan LUN pertama pada 28--31 Januari lalu diikuti 12 ribu siswa yang berasal dari 7.000 SMP negeri dan 5.000 SMP swasta.
"Hasil LUN pertama ini memang cukup memprihatinkan. Dari hasil tersebut, pihak sekolah sudah memiliki peta kemampuan siswa," kata Haryanto, Selasa (5-2).
Menurut dia, banyak siswa gagal mencapai nilai rata-rata yang tahun ini dinaikkan menjadi 5,25 (sebelumnya nilai rata-rata 5). Sedangkan, tiga mata pelajaran yang menjadi titik rawan ketidaklulusan adalah Matematika. Siswa yang memiliki nilai di atas passing grade (nilai batas kelulusan) 4,25 sebanyak 52%, Bahasa Inggris 56%, dan IPA hanya 48%, sedangkan Bahasa Indonesia (91%).
"Sekolah bersama MKKS sudah menganalisis dan memetakan kemampuan siswa, tiga mata pelajaran Matematika, Bahasa Inggris, dan IPA memang masih menjadi momok bagi siswa. Itu belum lagi digabungkan dan dijumlahkan menjadi nilai rata-rata minimal 5,25," ujarnya.
Menurut dia, kemarin (5-2), pihak sekolah dan MKKS sedang membahas strategi pematangan siswa dalam menghadapi UN. Beberapa di antaranya dengan mengelompokkan siswa berdasarkan ketuntasan minimal. Setiap sekolah akan mengadakan program pelayanan khusus, pengayaan materi, dan latihan soal UN. "Pembinaan akan dilakukan secara terprogram, terarah dan sistematis sesuai peta kemampuan siswa. Seperti kelas layanan khusus diperuntukkan membina siswa yang memiliki nilai rendah dan ketuntasan belajar sangat minimal," kata dia. Selain itu, LUN akan diselenggarakan satu bulan sekali sampai menjelang UN pada April nanti..
BANDAR LAMPUNG (Lampost):
Kelulusan siswa SMP Kota Bandar Lampung pada latihan ujian nasional (LUN) tahap I hanya 25,09%. Sebagian besar siswa gagal mencapai nilai rata-rata minimal 5,25.
Sedangkan tiga mata pelajaran yang masih menjadi momok adalah Matematika, Bahasa Inggris, dan IPA. Kondisi yang cukup memprihatinkan itu membuat pihak sekolah mengatur strategi pembelajaran agar siswa benar-benar siap menghadapi UN pada April nanti.
Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMPN Kota Bandar Lampung Haryanto mengatakan LUN pertama pada 28--31 Januari lalu diikuti 12 ribu siswa yang berasal dari 7.000 SMP negeri dan 5.000 SMP swasta.
"Hasil LUN pertama ini memang cukup memprihatinkan. Dari hasil tersebut, pihak sekolah sudah memiliki peta kemampuan siswa," kata Haryanto, Selasa (5-2).
Menurut dia, banyak siswa gagal mencapai nilai rata-rata yang tahun ini dinaikkan menjadi 5,25 (sebelumnya nilai rata-rata 5). Sedangkan, tiga mata pelajaran yang menjadi titik rawan ketidaklulusan adalah Matematika. Siswa yang memiliki nilai di atas passing grade (nilai batas kelulusan) 4,25 sebanyak 52%, Bahasa Inggris 56%, dan IPA hanya 48%, sedangkan Bahasa Indonesia (91%).
"Sekolah bersama MKKS sudah menganalisis dan memetakan kemampuan siswa, tiga mata pelajaran Matematika, Bahasa Inggris, dan IPA memang masih menjadi momok bagi siswa. Itu belum lagi digabungkan dan dijumlahkan menjadi nilai rata-rata minimal 5,25," ujarnya.
Menurut dia, kemarin (5-2), pihak sekolah dan MKKS sedang membahas strategi pematangan siswa dalam menghadapi UN. Beberapa di antaranya dengan mengelompokkan siswa berdasarkan ketuntasan minimal. Setiap sekolah akan mengadakan program pelayanan khusus, pengayaan materi, dan latihan soal UN. "Pembinaan akan dilakukan secara terprogram, terarah dan sistematis sesuai peta kemampuan siswa. Seperti kelas layanan khusus diperuntukkan membina siswa yang memiliki nilai rendah dan ketuntasan belajar sangat minimal," kata dia. Selain itu, LUN akan diselenggarakan satu bulan sekali sampai menjelang UN pada April nanti..
Selasa, 05 Februari 2008
Rumus ........Lulus or Tidak Lulus
Sebentar lagi rekan-rekan akan membuat laporan hasil LUN I maupun TRY OUT kepada Orang Tua tentunya akan kesulitan jika jumlah siswanya cukup banyak untuk menentukan LULUS atau TIDAK LULUS apalagi kalau pengerjaannya menggunakan perangkat Komputer. Nah! untuk mengatasi semua itu kami dari guru-guru TIK Bandar Lampung mencoba membuatkan rumus pengolahan nilai tersebut mudah-mudahan dapat membantu rekan-rekan guru terutama yang mengerjakan pelaporan tersebut.
Nomor Nama NILAI KET
Urut Peserta B.INA BING MTK IPA JML RR
1 001 ABDILAH JUNI PUTRA 6,00 6,00 6,00 3,99 21,99 5,50 TIDAKLULUS
2 002 ABDILAH JUNI PUTRA 6,00 6,00 6,00 3,99 18,00 5,50 TIDAKLULUS
3 003 ABDILAH JUNI PUTRA 6,00 6,00 6,00 3,99 18,00 5,50 TIDAKLULUS
=IF(OR(AND(J17>=5,25;MIN(E17:H17)>=4,25);AND(E17>=4;F17>=6;
G17>=6;H17>=6);AND(F17>=4;E17>=6;G17>=6;H17>=6);
AND(G17>=4;E17>=6;F17>=6;H17>=6);AND(H17>=4;E17>=6;
F17>=6;G17>=6));"LULUS";"TIDAKLULUS").
Nomor Nama NILAI KET
Urut Peserta B.INA BING MTK IPA JML RR
1 001 ABDILAH JUNI PUTRA 6,00 6,00 6,00 3,99 21,99 5,50 TIDAKLULUS
2 002 ABDILAH JUNI PUTRA 6,00 6,00 6,00 3,99 18,00 5,50 TIDAKLULUS
3 003 ABDILAH JUNI PUTRA 6,00 6,00 6,00 3,99 18,00 5,50 TIDAKLULUS
=IF(OR(AND(J17>=5,25;MIN(E17:H17)>=4,25);AND(E17>=4;F17>=6;
G17>=6;H17>=6);AND(F17>=4;E17>=6;G17>=6;H17>=6);
AND(G17>=4;E17>=6;F17>=6;H17>=6);AND(H17>=4;E17>=6;
F17>=6;G17>=6));"LULUS";"TIDAKLULUS").
Jumat, 01 Februari 2008
Cara-Cara Praktis Mengembangkan Minat Baca Anak
Bagi Anda-Anda yang ingin agar anaknya memiliki minat baca yang besar, berikut ini beberapa tips praktis
1. Jadikan buku sebagai teman setia kemanapun anak Anda pergi
Sebelum bepergian, misalnya ke dokter gigi, rumah makan atau gereja, Jesica selalu saya minta untuk membawa buku. Dengan demikian buku dapat menjadi tempat pelarian pertama yang nyaman ketika anak dihinggapi rasa bosan dengan sekelilingnya. Buku bisa menjadi sahabat karib anak, khususnya pada saat-saat anak perlu menghibur diri karena tidak ada hal lain yang menarik di sekitarnya.
2. Jadikan buku sebagai salah satu hadiah yang dinantikan
Walaupun kadang anak tidak tertarik dengan buku yang kita berikan, orang tua tidak perlu uring-uringan atau langsung membombardirnya dengan nasehat-nasehat tentang pentingnya membaca buku. Dengan sedikit promosi tentang hal-hal yang menarik dari buku tersebut, anak bisa berubah pikiran dan menjadi tertarik. Nah, kuncinya orang tua sendiri juga harus tahu dan tertarik dengan buku apa yang diberikan kepada anaknya.
3. Jadikan toko buku sebagai tempat favorit untuk dikunjungi
Pergi ke toko buku tidak berarti Anda harus membelanjakan uang di sana. Dengan sering mengunjungi toko buku anak menjadi terbiasa untuk melihat perkembangan buku-buku yang ada. Jangan selalu menuruti keinginan anak dalam hal membeli buku tapi ajarkan dia ketrampilan dalam memilih dan menilai buku yang baik, karena ini lebih penting. Pada saat-saat tertentu ijinkan dia memilih sendiri buku yang ingin Anda belikan dan tanyakan kenapa ia memilih buku tersebut. Jika alasannya baik, Anda perlu memberikan pujian persetujuan sehingga ia tahu bahwa ia sudah melakukan hal yang benar.
4. Bermain untuk mengembangkan ketrampilan berbahasa
Kemampuan anak berbahasa mempengaruhi ketrampilan anak dalam membaca. Anak yang kurang trampil membaca menjadi malas membaca, ini adalah fakta. Nah, karena orientasi aktivitas anak-anak kecil lebih cenderung ke permainan, maka latihlah anak untuk trampil berbahasa dengan memberikan permainan-permainan yang menggunakan kata-kata, misalnya sebutkan kata benda yang berawalan dengan huruf 'b'; atau sebutkan lawannya kata 'jauh'; sebutkan 5 kata lain yang berhubungan dengan balon.... dan seterusnya. Dengan semakin menguasai bahasa, maka anak akan semakin percaya diri dan bersemangat untuk menaklukkan buku-buku.
5. Jangan membaca komik terlalu banyak
Jika 4 poin di atas adalah anjuran, maka poin yang kelima ini adalah larangan: Jangan biarkan anak kecil membaca komik terlalu banyak. Berikan pengarahan ketika membaca komik. Komik yang sarat dengan gambar justru dapat membatasi daya imaginasi anak dan membuat anak malas untuk membuat imaginasinya sendiri. Kekayaan ekspresi pikiran dan emosi anak tidak dapat ditampung hanya dalam gambar, karena itu ia perlu menguasai bahasa untuk bisa mengungkapkannya dengan lebih leluasa. Dengan semakin banyak membaca kata-kata maka semakin luas pula pengenalannya pada perbendaharaan kata-kata dan semakin luas pula imaginasinya dalam kata-kata.
Tulisan Guru yang Pandai Mengobrol
Sejumlah pakar menjelaskan teori, itu biasa. Teori, konsep, dan petunjuk teknis memang sering datang dari seorang pakar. Lalu, bagaimana di lapangan para praktisi biasanya menghadapi permasalahannya. Seolah ada kesenjangan antara tataran praktis dan teoretis. Ada bagian-bagian yang kurang menyentuh bagian yang pragmatis sehingga beragam penjelasan sering dirasakan kurang praktis.
Untuk itulah Hernowo-seorang guru bahasa dan sastra Indonesia-turut serta menjelaskan bagian teoretis dalam kemasan pengalaman praktis. Konsep-konsep pendidikan yang biasanya sarat dengan beban teori dijelaskan secara ringan melalui tokoh Bu Slim dan Pak Bil. Dalam buku yang mengusung perbincangan pendidikan di masa depan ini, dua tokoh secara renyah menjelaskan konsep whole brain, modalitas, kebermaknaan belajar, konstruktivisme, life skills, portofolio, dan kompetensi dalam pengalaman belajar keseharian.
Apabila Anda membuka sampul depan terbitan MLC ini, segera akan ditemukan kalimat yang menjanjikan kemudahan mencerna buku ini. Bunyi kalimatnya seperti ini, "Buku simpel nan praktis yang ditulis dalam bahasa obrolan ini akan membuat Anda berteriak sangat keras, WOW AKU BISA!" Berdasarkan kalimat tersebut, berarti ada tiga kata kunci yang dijanjikan kepada pembaca dalam buku ini, yakni: simpel, praktis, dan terlepas dari keringnya ragam bahasa formal.
Dari bentuk fisiknya, kesan simpel dapat dengan mudah terlihat dari ketebalan buku yang dikemas hanya sebatas 124 halaman. Besarnya ukuran huruf yang digunakan di atas rata-rata dan ukuran jarak antarbaris dengan spasi ganda memperjelaskan kesan itu. Kesan simpel juga semakin menguat ketika pembaca menemukan dominannya ilustrasi gambar kartun yang berkesan lucu tetapi merujuk pada tema pembicaraan yang mengisi hampir setiap halaman buku ini.
Mengejar kesan praktis, penulis tidak memulai dari definisi atau berkutat pada kedalaman teori. Ia memang menyebut beberapa pakar seperti: Dave Meier, Paul E Dennison dan Gail E Dennison, Colin Rose, Lawrence C Katz dan Manning Rubin, Tony Buzan, Bobby DePorter, Mikle Hernacki, dan sejumlah tokoh lainnya. Meski demikian, pakar dengan teorinya tidak menjadi lepas sebagai kajian formal. Para pakar dan judul buku yang disebutkan dikemas menjadi bagian yang larut dari pembelajaran dan pengalaman kontekstual dari kedua tokoh penulis, Pak Bil dan Bu Slim. Maka, jadilah buku ini sebagai kemasan transfer pengetahuan dalam obrolan pengalaman yang mengalir dan mengasyikkan.
Di kalangan pakar sepakat bahwa kegagalan pelaksanaan CBSA yang mengusung konsep active learning adalah tak pernah bergesernya paradigma guru sebagai insan yang diberi kewenangan menyelenggarakan pendidikan. Guru telah terbiasa menjadi penentu (teacher center) daripada menjadi fasilitator pembelajaran yang bertumpu pada aktivitas siswa (student center). Itu sebabnya, guru sering menempatkan aktivitasnya "mengajar" (teacher teaching) dan melupakan siswa sebagai subyek didik yang belajar (student learning). Akhirnya, yang menjadi perhatian guru adalah proses belajar-mengajar (learning teaching process) dengan perhatian siswa secara kelasikal, bukan penghargaan aktivitas siswa sebagai individu (student activity).
Akan halnya CBSA, Kurikulum 2004 (KBK) pun akan bernasib sama andai paradigma guru tidak berubah. Pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas akan lagi-lagi didominasi oleh para guru yang mengajar dengan "gaya bank" (Paolo Freire) karena terkungkung instruksi keharusan menyelesaikan sejumlah materi pelajaran. Tentu saja kondisi guru seperti itu tidaklah berdampak positif bagi perkembangan potensi individual siswa.
Lalu bagaimana menurut praktisi, dalam hal ini guru? Mereka malah menyalahkan pakar yang hanya berteori dan tak pernah berpijak di bumi. Beberapa kondisi obyektif sering menyimpang dari teori yang diutarakan sehingga selalu ada ketimpangan antara teori dengan kenyataan sehari-hari.
Untuk itulah Hernowo menulis. Ia mengaku praktisi, seorang guru bahasa dan sastra Indonesia. Sepertinya ia memahami keterbatasan seorang pakar yang biasanya terjebak pada konsistensi teori dan keterkungkungan aturan-aturan formal keilmuan maupun kebahasaan. Tetapi ia pun sadar betul akan kompetensi yang dimilikinya. Maka, ia pun menulis, "Buku yang saya rancang konsep bercerita ini merupakan upaya saya untuk menunjukkan kompetensi saya dalam menggunakan bahasa Indonesia. Mungkin karya saya ini belum termasuk ke dalam kategori tulisan sastra. Dalam buku ini saya hanya ingin berimajinasi lewat tokoh Bu Slim dan Pak Bil. Tentu saja imajinasi saya tidak lantas melayang-layang tak karuan. Imajinasi saya yang saya kembangkan di buku ini saya pijakkan pada pengalaman nyata."
Seorang guru yang mampu menulis memang bukan Hernowo seorang. Dalam sejarah pendidikan kita ditemukan sejumlah nama, mulai dari Ki Hajar Dewantoro sampai Ki Suprayoko; sejak Pater Drost SJ sampai St Kartono.
Khusus yang terakhir ini memang memiliki kemiripan dengan Hernowo. Dalam dua karangannya, ia senantiasa menyebut dirinya sebagai guru, baik dalam Menebar Benih Keteladanan; Kumpulan Esei seorang Guru (2001); maupun [Menebus] Pendidikan yang Tergadai: Catatan Refleksi Seorang Guru (2002). Tetapi kedua buku itu agak berbeda dengan Hernowo yang menulis Bu Slim & Pak Bil : Penerapan Multipel Intelegensi pada Kehidupan Sehari-hari di Sekolah (2003), maupun pada Bu Slim & Pak Bil: Membincangkan Pendidikan di Masa Depan: Ihwal Life Skills, Portofolio, Konstruktivisme, dan Kompetensi (2004), ia bukan hanya mampu menulis tetapi lebih dari itu, ia mampu mengobrol.
Kehadiran guru yang menjadi penulis memang membesarkan hati. Walau bagaimanapun, gurulah yang paling mengetahui permasalahan di lapangan pendidikan. Guru yang merasa bebas dari kungkungan dan berusaha tampil menciptakan hal-hal baru bagi penciptaan kegairahan menyongsong masa depan. "Lewat buku ini, yang merupakan serial kedua Bu Slim dan Pak Bil," tulisnya, "saya ingin menatap sistem pendidikan kita di masa depan. Apa kira-kira yang harus dikuasai oleh para penggiat pendidikan untuk menggairahkan pendidikan di masa depan."
Semoga kesadaran dan kegairahan mengelola pembelajaran yang lebih baik juga merambah ke guru-guru lain di seantero jagat. Setidaknya, sedikit demi sedikit akan hilanglah kekhawatiran kita terhadap kegagalan pendidikan di negeri ini. Terutama kegagalan pendidikan yang paling mendasar, yakni kegagalan dalam belajar, sebagaimana Alvin Tofler katakan, "Mereka yang buta huruf mengenai masa depan bukan lagi individual yang tidak dapat membaca. Mereka adalah orang yang tidak tahu cara belajar mengenai cara belajar."
Maka, siapa lagi yang mau mengajarkan cara belajar? Tidak apa-apa kok sambil mengobrol juga!
Penulis: Hernowo .
Untuk itulah Hernowo-seorang guru bahasa dan sastra Indonesia-turut serta menjelaskan bagian teoretis dalam kemasan pengalaman praktis. Konsep-konsep pendidikan yang biasanya sarat dengan beban teori dijelaskan secara ringan melalui tokoh Bu Slim dan Pak Bil. Dalam buku yang mengusung perbincangan pendidikan di masa depan ini, dua tokoh secara renyah menjelaskan konsep whole brain, modalitas, kebermaknaan belajar, konstruktivisme, life skills, portofolio, dan kompetensi dalam pengalaman belajar keseharian.
Apabila Anda membuka sampul depan terbitan MLC ini, segera akan ditemukan kalimat yang menjanjikan kemudahan mencerna buku ini. Bunyi kalimatnya seperti ini, "Buku simpel nan praktis yang ditulis dalam bahasa obrolan ini akan membuat Anda berteriak sangat keras, WOW AKU BISA!" Berdasarkan kalimat tersebut, berarti ada tiga kata kunci yang dijanjikan kepada pembaca dalam buku ini, yakni: simpel, praktis, dan terlepas dari keringnya ragam bahasa formal.
Dari bentuk fisiknya, kesan simpel dapat dengan mudah terlihat dari ketebalan buku yang dikemas hanya sebatas 124 halaman. Besarnya ukuran huruf yang digunakan di atas rata-rata dan ukuran jarak antarbaris dengan spasi ganda memperjelaskan kesan itu. Kesan simpel juga semakin menguat ketika pembaca menemukan dominannya ilustrasi gambar kartun yang berkesan lucu tetapi merujuk pada tema pembicaraan yang mengisi hampir setiap halaman buku ini.
Mengejar kesan praktis, penulis tidak memulai dari definisi atau berkutat pada kedalaman teori. Ia memang menyebut beberapa pakar seperti: Dave Meier, Paul E Dennison dan Gail E Dennison, Colin Rose, Lawrence C Katz dan Manning Rubin, Tony Buzan, Bobby DePorter, Mikle Hernacki, dan sejumlah tokoh lainnya. Meski demikian, pakar dengan teorinya tidak menjadi lepas sebagai kajian formal. Para pakar dan judul buku yang disebutkan dikemas menjadi bagian yang larut dari pembelajaran dan pengalaman kontekstual dari kedua tokoh penulis, Pak Bil dan Bu Slim. Maka, jadilah buku ini sebagai kemasan transfer pengetahuan dalam obrolan pengalaman yang mengalir dan mengasyikkan.
Di kalangan pakar sepakat bahwa kegagalan pelaksanaan CBSA yang mengusung konsep active learning adalah tak pernah bergesernya paradigma guru sebagai insan yang diberi kewenangan menyelenggarakan pendidikan. Guru telah terbiasa menjadi penentu (teacher center) daripada menjadi fasilitator pembelajaran yang bertumpu pada aktivitas siswa (student center). Itu sebabnya, guru sering menempatkan aktivitasnya "mengajar" (teacher teaching) dan melupakan siswa sebagai subyek didik yang belajar (student learning). Akhirnya, yang menjadi perhatian guru adalah proses belajar-mengajar (learning teaching process) dengan perhatian siswa secara kelasikal, bukan penghargaan aktivitas siswa sebagai individu (student activity).
Akan halnya CBSA, Kurikulum 2004 (KBK) pun akan bernasib sama andai paradigma guru tidak berubah. Pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas akan lagi-lagi didominasi oleh para guru yang mengajar dengan "gaya bank" (Paolo Freire) karena terkungkung instruksi keharusan menyelesaikan sejumlah materi pelajaran. Tentu saja kondisi guru seperti itu tidaklah berdampak positif bagi perkembangan potensi individual siswa.
Lalu bagaimana menurut praktisi, dalam hal ini guru? Mereka malah menyalahkan pakar yang hanya berteori dan tak pernah berpijak di bumi. Beberapa kondisi obyektif sering menyimpang dari teori yang diutarakan sehingga selalu ada ketimpangan antara teori dengan kenyataan sehari-hari.
Untuk itulah Hernowo menulis. Ia mengaku praktisi, seorang guru bahasa dan sastra Indonesia. Sepertinya ia memahami keterbatasan seorang pakar yang biasanya terjebak pada konsistensi teori dan keterkungkungan aturan-aturan formal keilmuan maupun kebahasaan. Tetapi ia pun sadar betul akan kompetensi yang dimilikinya. Maka, ia pun menulis, "Buku yang saya rancang konsep bercerita ini merupakan upaya saya untuk menunjukkan kompetensi saya dalam menggunakan bahasa Indonesia. Mungkin karya saya ini belum termasuk ke dalam kategori tulisan sastra. Dalam buku ini saya hanya ingin berimajinasi lewat tokoh Bu Slim dan Pak Bil. Tentu saja imajinasi saya tidak lantas melayang-layang tak karuan. Imajinasi saya yang saya kembangkan di buku ini saya pijakkan pada pengalaman nyata."
Seorang guru yang mampu menulis memang bukan Hernowo seorang. Dalam sejarah pendidikan kita ditemukan sejumlah nama, mulai dari Ki Hajar Dewantoro sampai Ki Suprayoko; sejak Pater Drost SJ sampai St Kartono.
Khusus yang terakhir ini memang memiliki kemiripan dengan Hernowo. Dalam dua karangannya, ia senantiasa menyebut dirinya sebagai guru, baik dalam Menebar Benih Keteladanan; Kumpulan Esei seorang Guru (2001); maupun [Menebus] Pendidikan yang Tergadai: Catatan Refleksi Seorang Guru (2002). Tetapi kedua buku itu agak berbeda dengan Hernowo yang menulis Bu Slim & Pak Bil : Penerapan Multipel Intelegensi pada Kehidupan Sehari-hari di Sekolah (2003), maupun pada Bu Slim & Pak Bil: Membincangkan Pendidikan di Masa Depan: Ihwal Life Skills, Portofolio, Konstruktivisme, dan Kompetensi (2004), ia bukan hanya mampu menulis tetapi lebih dari itu, ia mampu mengobrol.
Kehadiran guru yang menjadi penulis memang membesarkan hati. Walau bagaimanapun, gurulah yang paling mengetahui permasalahan di lapangan pendidikan. Guru yang merasa bebas dari kungkungan dan berusaha tampil menciptakan hal-hal baru bagi penciptaan kegairahan menyongsong masa depan. "Lewat buku ini, yang merupakan serial kedua Bu Slim dan Pak Bil," tulisnya, "saya ingin menatap sistem pendidikan kita di masa depan. Apa kira-kira yang harus dikuasai oleh para penggiat pendidikan untuk menggairahkan pendidikan di masa depan."
Semoga kesadaran dan kegairahan mengelola pembelajaran yang lebih baik juga merambah ke guru-guru lain di seantero jagat. Setidaknya, sedikit demi sedikit akan hilanglah kekhawatiran kita terhadap kegagalan pendidikan di negeri ini. Terutama kegagalan pendidikan yang paling mendasar, yakni kegagalan dalam belajar, sebagaimana Alvin Tofler katakan, "Mereka yang buta huruf mengenai masa depan bukan lagi individual yang tidak dapat membaca. Mereka adalah orang yang tidak tahu cara belajar mengenai cara belajar."
Maka, siapa lagi yang mau mengajarkan cara belajar? Tidak apa-apa kok sambil mengobrol juga!
Penulis: Hernowo .
Langganan:
Postingan (Atom)